Jumat, 31 Agustus 2012

Pos Media DREAM 2012


Serangkaian Kegiatan Pendidikan dan Pengenalan Kampus DREAM 2012 berikutnya adalah Road The Campuss yang diadakan pada Jum’at, 31 Agustus 2012. Disini mahasiswa baru akan diajak berkeliling sekitar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Bagi yang melewatkan kegiatan sebelumnya bisa baca disini.

Tidak hanya sekedar berkeliling, mahasiswa baru juga akan melewati pos-pos bayangan dan salah satunya bertempat di UPN Televisi. Beberapa crew UPN Televisi sudah bersiap menyapa mahasiswa baru yang akan singgah sejenak di UPN Televisi. Mereka memperkenalkan ‘kantor’ UPN Televisi dan membagikan formulir beserta stiker kepada mahasiswa baru yang belum mendapatkan lampiran tersebut.

Selanjutnya mereka digiring ke Pos Media yang terletak di belakang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Disana keempat Media Ilmu Komunikasi sudah mempersiapkan peralatan untuk dipraktekan bersama mahasiswa baru. Tak luput juga UPN Televisi. Beberapa crew UPN Televisi lainnya memberikan penjelasan bagaimana cara menjadi kameramen, presenter, cara mengedit video, dan sebagainya. Pos Media ini dibuat untuk memberikan pilihan media mana yang sesuai dengan minat dan bakat mahasiswa baru Ilmu Komunikasi. [megzomorfa]


Salah satu mahasiswa baru mencoba mengedit video
di Pos Media UPN Televisi


Beberapa mahasiswa baru belajar singkat mengenai kamera
di Pos Media UPN Televisi

Beberapa mahasiswa baru mencoba menjadi presenter
di Pos Media UPN Televisi

Presentasi Media DREAM 2012

Ridwan dan Cayzia menjelaskan tentang profil dan program
acara UPN Televisi

Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMAKOM,red) mengadakan Kegiatan Pendidikan dan Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru 2012/2013 bertajuk DREAM 2012. Kegiatan tersebut dimulai pada Kamis, 30 Agustus 2012. Termasuk dalam kegiatan tersebut, Presentasi 4 Media yang ada Ilmu Komunikasi. Salah satunya adalah UPN Televisi.

Dalam presentasi ini, Ridwan Hawari dan Cayzia Prisilla, selaku Co-Host menjelaskan tentang profil dan program acara UPN Televisi. Presentasi Media kali ini disajikan dalam bentuk reportase. Selain itu, UPN Televisi juga menampilkan Company Profile. Presentasi Media UPN Televisi ditutup dengan teriakan tagline UPN Televisi dan tepuk tangan meriah dari seluruh mahasiswa baru yang berkumpul di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. [megzomorfa]

Antusiasme Mahasiwa Baru Ilmu Komunikasi
menyaksikan Company Profile UPN Televisi
Salah satu crew membagikan formulir dan stiker
UPN Televisi

Kamis, 30 Agustus 2012

KONTAK KAMI

               
UPN Televisi

Sisi Barat Gedung Giri Pustaka
(Belakang Fakultas Ekonomi 2)
Jalan Raya Rungkut Madya, Gunung Anyar
Surabaya - 60294

Email         :    upntelevisijatim@gmail.com
Blog           :    upntelevisi-jawatimur.blogspot.com
Facebook   :    http://www.facebook.com/upntelevisi
Twitter        :    @upntelevisi 



Progdi Ilmu Komunikasi

Gedung Adhi Krita 
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
UPN Veteran Jawa Timur
Jalan Raya Rungkut Madya, Gunung Anyar
Surabaya - 60294

Sabtu, 18 Agustus 2012

UPNTelevisi Bagi Bagi Takjil

Bulan Ramadan, bulan penuh berkah. Di bulan inilah, banyak orang berbondong-bondong untuk berbagi dengan sesama. Tak terkecuali Pengurus UPN Televisi yang melakukan bagi-bagi takjil gratis bagi pengguna jalan yang melintasi di persimpangan jalan MERR gunung anyar Surabaya, pada selasa (14/8/12) petang.

Kegiatan ini cukup mendapat sambutan antusias dari para pengendara yang melintas. Meskipun terjadi sedikit kemacetan, sebanyak 200 bungkus takjil telah habis kurang dari 10menit.

“ Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kaum muslim saat menenuaikan ibadah puasa yang berada dalam perjalanan atau terjebak kemacetan lalu lintas saat menjelang waktu berbuka puasa. sekaligus mempererat silaturahmi antara BPH, DP dan Alumni UPNTelevisi ”. ungkap Reza Firmansyah, ketua Dewan Penasehat UPNTelevisi.
(windrey.red)




Pengurus UPN TELEVISI saat membagikan Ta'jil







Pengurus UPN TELEVISI Menunggu saat - saat pembagian Ta'jil





Pembagian Ta'jil disambut gembira oleh pengendara di jalan

Minggu, 05 Agustus 2012

Teknik Pengambilan Gambar





Kameraman adalah orang yang mengoperasikan video camera untuk recording film dan/atau video.Dan kameramen berhak mengambil gambar secara pribadi sebagai stok gambar.




Syarat menjadi kameramen handal :

1. Mempunyai naluri yang tinggi dalam menentukan pengambilan gambar yang bernilai estetika.
2. Dapat mengatur kuantitas cahaya saat pengambilan gambar.
3. Harus menguasai teknik pengambilan gambar.
4. Menguasai isi skenario.
5. Tidak gugup / grogi saat pengambilan gambar

Ukuran Shot

1. Extreme Long shot :
Pengambilan gambar dengan seluruh objek sampai objek terlihat kecil.

2. Long Shot  : Gambar yang direkam dari jarak yang jauh.Biasanya dengan cara pengambilan dari sudut panjang dan lebar.

3. Medium Long shot : Gambar yang diambil dari jarak yang panjang dan jauh.

4. Medium Shot : Pengambilan gambar dengan jarak sedang, kurang lebih ½ bagian objek terlihat (sampai pinggang).

5. Medium Close Up : Pengambilan gambar dari jarak cukup dekat.

6. Close Up : Pengambilan gambar dari jarak dekat.

7. Extreme Close Up : Pengambilan gambar dari jarak yang sangat dekat.

8. Full Shot : Pengambilan gambar dengan menampakkan secara jelas seluruh bagian objek.


Klasifikasi Gerak Kamera

1. Pergeseran Lensa
     - Zoom In : Pengambilan gambar dengan satu objek (tanpa background).
     - Zoom Out : Pengambilan gambar dengan objek yang terlihat kecil (dengan background).
2. Bertumpu Pada Poros
     - Tilt Up/Down : Pengambilan gambar dari bawah ke atas / sebaliknya.
     - Panning/Wipe : Pengambilan gambar dengan tekhnik menyapu (Horizontal maupun vertikal).
3. Seluruh Badan
    - Follow : Pengambilan gambar yang mengikuti objek.
    - Track In/Out : Pengambilan gambar dengan kamera bergerak mendekati objek / sebaliknya.
    - Swing : Pengambilan gambar dengan tekhnik melayang.

Klasifikasi Pergerakan Objek

1. In Frame : Pengambilan gambar dengan pergerakan objek ke dalam frame kamera dari samping.
2. Out Frame : Pengambilan gambar dengan pergerakan objek ke samping keluar dari frame kamera.
3. Fade In : Pengambilan gambar dengan pergerakan objek mendekati kamera.
4. Fade Out : Pengambilan gambar dengan pergerakan objek menjauhi kamera.

Angle Kamera

1. High Angle                                                                 2. Medium / Normal Angle   

Teknik pengambilan gambar 
dengan sudut pandang kamera dari atas.
Teknik pengambilan gambar dengan
sudut pandang kamera
dari posisi normal /standart.

3. Low Angle
   
Teknik pengambilan gambar
dengan sudut pandang kamera
dari bawah.

Semangat Dalam Berbagi


Barang yang akan disumbangkan ke
Panti Asuhan Al - Mizan
Sabtu lalu (4/8) Crew UPN Televisi mengadakan kegiatan Bakti Sosial bertajuk ”Semangat Dalam Berbagi” sebagai bentuk rasa ingin berbagi kebahagiaan di Bulan Ramadhan. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan bentuk syukur atas terbentuknya BPH baru UPN Televisi. Acara ini bertempat di Panti Asuhan Al – Mizan, Surabaya.
Ketua penyelenggara bakti sosial ini adalah Mega Dwita Rachma sekaligus Koordinator Divisi Humas UPN Televisi. Kegiatan ini dimulai pada pukul 10.00 pagi dengan susunan acara yang diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan sambutan dari pihak panti asuhan dan ketua penyelenggara bakti sosial.

Beberapa adik-adik panti asuhan
sedang belajar bersama salah satu
crew UPN Televisi
Selesai sambutan acara dilanjutkan dengan sharing pengalaman bersama adik-adik panti asuhan. Disana crew UPN Televisi yang hadir mengajarkan ilmu yang mereka miliki di bidang televisi kepada mereka. Mereka terlihat antusias dengan apa yang diajarkan. Tak sedikit dari mereka yang mencoba menjadi reporter, news anchor, cameramen, dan presenter.

Acara ditutup dengan doa bersama
Rangkaian kegiatan bakti sosial ini diakhiri dengan penyerahan barang sumbangan dari UPN Televisi dan ditutup dengan doa bersama-sama. Harapan semua crew selaku pelaksana bakti sosial ini, semoga barang sumbangan yang seadanya dari mereka bisa bermanfaat bagi adik-adik Panti Asuhan Al – Mizan. [megzomorfa]

Sabtu, 04 Agustus 2012

Karakteristik Bahasa Jurnalistik Televisi

Kita saksikan bahwa karakteristik bahasa jurnalistik yang dikemukakan oleh para pakar jurnalistik di atas reletaif sama. Kita akan merangkum karakteristik-karakteristik bahasa jurnalistik televisi di atas, dan kemudian menjelaskan kaitannya dengan karakteristik televisi sebagai media berikut contohnya:
  • Menggunakan bahasa sehari-hari, gaya bahasa percakapan, atau kalimat tutur  
Televisi adalah media audio-visual atau media pandang-dengar. Pemirsa memandang gambar dan mendengar narasi. Penyiar atau presenter atau reporter membacakan narasi atau narasi untuk pemirsa. Penyiar, presenter, atau reporter seolah tengah bercakap-cakap dengan pemirsa. Karena itu, kita harus menggunakan bahasa sehari-hari, bahasa percakapan, atau kalimat tutur dalam berita televisi yang kita buat. Bahwa bahasa jurnalistik televisi harus menggunakan gaya bahasa bertutur adalah juga untuk membedakannya dengan bahasa jurnalistik media cetak yang cenderung formal.
Contoh:
UNJUK RASA MAHASISWA DI GEDUNG D-P-R-D KOTA MEDAN/ DIWARNAI BENTROK DENGAN APARAT KEAMANAN/// (Formal, terutama pada kata ’’diwarnai.’ )
MAHASISWA BENTROK DENGAN APARAT/ KETIKA MAHASISWA BERUNJUK RASA DI DEPAN GEDUNG D-P-R-D KOTA MEDAN// (Bahasa tutur)
  • Menggunakan kata atau kalimat sederhana, menghindari kata asing, kata klise, istilah teknis
Sifat atau karakteristik televisi adalah jangkauannya yang luas. Itu artinya berita televisi menjangkau khalayak dari berbagai tingkat sosial-ekonomi. Jika untuk memperoleh informasi dari media cetak orang harus bisa membaca, untuk memperoleh informasi dari televisi orang tidak harus pandai membaca. Artinya, orang buta huruf pun bisa menonton berita televisi. Karena itu, bahasa jurnalistik televisi harus bisa dipahami oleh rata-rata penonton televisi. Bahasa yang dapat dipahami oleh rata-rata penonton televisi adalah bahasa yang sederhana, yang menghindari penggunaan kata asing atau istilah teknis yang belum umum.  Jika terpaksa menggunakan kata asing atau istilah teknis, upayakan menjelaskan arti atau maknanya.
Contoh 1:
KOMISI SATU D-P-R AKAN MEMINTA KLARIFIKASI PANGLIMA T-N-I BERKAITAN DENGAN DUGAAN KETERLIBATAN ANGGOTA T-N-I DALAM JARINGAN PERDAGANGAN SENJATA INTERNASIOAL/// (Bukan bahasa jurnalistik televisi yang baik, karena ada kata asing dan ’’klarifikasi.’’)
KOMISI SATU D-P-R AKAN MEMINTA PENJELASAN PANGLIMA T-N-I BERKAITAN DENGAN DUGAAN KETERLIBATAN ANGGOTA T-N-I DALAM PERDAGANGAN SENJATA INTERNASIONAL// (Bahasa sederhana)
Contoh 2:
KERUSUHAN POSO MELIBATKAN OKNUM ANGGOTA T-N-I// (Bukan bahasa jurnalistik televisi, karena ada kata ’’klise’’, yaitu oknum.)
KERUSUHAN POSO MELIBATKAN ANGGOTA T-N-I/// (Bahasa jurnalistik televisi)
  • Menggunakan kalimat pendek atau ekonomi kata
Kalimat panjang seringkali lebih sulit dimengerti dibanding kalimat pendek. Padahal, televisi bersifat sekilas dan satu arah. Artinya, ketika penonton tidak paham dengan berita yang kalimatnya terlampau panjang, dia tidak dapat mengulang mendengar berita tersebut. Lagi pula, kekuatan berita ada pada gambar. Jadi, buat apa menggunakan kalimat yang panjang-panjang. Selain itu, televisi mengutamakan kecepatan. Kalimat panjang hanya akan menjadikan alur berita berjalan lamban. Tetapi, jika suatu berita melulu terdiri dari kalimat-kalimat pendek, akan kedengaran membosankan.
Contoh:
PARA MAHASISWA BERENCANA AKAN MELAKUKAN UNJUK RASA MENENTANG KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK/ BESOK/// (Terdapat sejumlah kata mubazir)
BESOK/ MAHASISWA BERUNJUK RASA MENENTANG KENAIKAN HARGA HARGA BAHAN BAKAR MINYAK///kalimat panjang dipecah menjadi dua kalimat pendek)
  •  Menghindari kalimat terbalik, subyek dan predikat berdekatan posisinya, jabatan mendahului nama pemangku jabatan
Karakteristik bahasa jurnalistik televisi yang seperti ini sangat terkait dengan karakteristik televisi yang bersifat sekilas dan searah. Jika menggunakan kalimat terbalik atau letak subyek dan predikat berjauhan, boleh jadi penonton lupa siapa mengatakan atau melakukan apa.
Contoh 1:
SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, PRESIDEN R-I, MEMERINTAHKAN ABURIZAL BAKRI, MENKO KESRA, MEMBERI GANTI RUGI KEPADA KORBAN LUMPUR LAPINDO DI SIDOARJO/ JAWA TIMUR// (Buruk, nama pemangku jabatan mendahului jabatan)
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO MEMERINTAHKAN MENKO KESRA ABURIAL BAKRI MEMBERI GANTI RUGI KEPADA KORBAN LUMPUR LAPINDO DI SIDOARJO/ JAWA TIMUR// (Baik, jabatan mendahukui pemangku jabatan)
Contoh 2:
INDONESIA HARUS BEBAS DARI KORUPSI,  KATA PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO// (Bukan bahaSa jurnalistik televisi karena subyek dan predikat terpisah letaknya)
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO BERTEKAD INDONESIA BEBAS DARI KORUPSI// (Bahasa jurnalistik televisi)
Contoh 3:
MEMPROTES PENANGKAPAN REKANNYA OLEH POLISI/ SERIBUAN MAHASISWA BERUNJUK RASA DI POLDA METRO JAYA/// (Bukan bahasa jurnalistik televisi, karena anak kalimat mendahului induk kalimat)
SERIBUAN MAHASISWA BERUNJUK RASA DI POLDA METRO JAYA MEMPROTES PENANGKAPAN REKAN MEREKA OLEH POLISI/// (Bahasa jurnalistik televisi)
  • Menggunakan kalimat aktif, jangan menyembunyikan kata kerja yang kuat di balik kata benda
Kalimat aktif lebih memiliki kekuatan dibanding kalimat pasif. Kalimat aktif juga lebih dimengerti dibanding kalimat pasif. Karena televisi merupakan media yang mengandalkan kecepatan dan bersifat sekilas, penggunaan kalimat aktif membuat penontin lebih mudah memahami berita tekevisi.
Contoh 1:
PRESIDEN  TIDAK PEDULI DENGAN TUNTUTAN MAHASISWA/// (Kalimat negatif)
PRESIDEN MENGAMBAIKAN TUNTUTAN MAHASISWA (Bahasa jurnalistik televisi, karena menggunakan kalimat aktif)
Contoh 2:
LEDAKAN BOM TERJADI DI DEPAN KEDUTAAN BESAR AUSTRALIA DI JAKARTA/// (Kalimat pasif, menyembunyikan kata kerja yang kuat di balik kata benda)
BOM MELEDAK DI DEPAN KEDUTAAN BESAR AUSTRALIA DI JAKARTA/// (Kalimat aktif, menampilkan kata kerja yang kuat: kata ’’meledak’’)
  • Jangan terlampau banyak menggunakan angka-angka
Televisi, seperti telah berungkali kali dikatakan di sini,  bersifat sekilas. Jika kita terlampau banyak menggunakan angka-angka, apalagi angka yang terlampau detil, pemirsa sulit mengingat, apalagi memahaminya. Karena itu, berhati-hatilah dalam menggunakan angka-angka. Jangan menggunakan angka-angka yang terlalu detil. Penggunaan angka yang terlalu banyak dan detil juga membuat kalimat kita menjadi panjang. Padahal, seperti telah disebut di atas, kita sebaiknya menggunakan kalimat-kalimat pendek dalam berita televisi yang kita tulis.
Contoh:
SEBANYAK SERIBU SERATUS 5 PULUH LIMA MAHASISWA BERUNJUK RASA DI GEDUNG D-P-R/// (Buruk, angka-angka terlalu detil)
LEBIH DARI 100 MAHASISWA BERUNJUK RASA DI GEDUNG D-P-R/// (Baik, angka tidak detil atau dibulatkan)