Tampilkan postingan dengan label PRODUKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRODUKSI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2012

SOP Pelaksanaan Produksi

Tahapan Pelakasanaan Produksi
Suatu produksi audio video yang melibatkan banyak orang, biaya yang besar dan banyak peralatan maka perlu pengorganisasian yang rapi dan perlu suatu tahapan produksi yang jelas. Tahapan produksi terdiri dari tiga bagian yang lazim di industri televisi dikenal dengan istilah standard operation procedure (SOP), seperti berikut :
a. Pra Produksi (ide, perencanaan dan persiapan)
b. Produksi (Pelaksanaan)
c. Paska produksi (penyelesaiaan dan penayangan)

a. Pra Produksi
Tahap ini sangat penting, sebab pekerjaan jika dilakukan secara terperinci maka sebagian pekerjaan dari produksi sudah beres. Tahapan pra produksi meliputi tiga bagian:
1 Penemuan ide
Tahap ini ketika seorang produser menemukan ide atau gagasan, membuat riset dan menuliskan naskah agar gagasan semakin berkembang.
2. Perencanaan
Tahap ini meliputi penetapan jangka waktu kerja (time schedule), penyempurnaan naskah, pemilihan artis, lokasi dan crew.
3. Persiapan
Tahap ini meliputi pemberesan semua kontrak, perizinan dan surat menyurat. Latihan (rehearsal) para talent dan pembuatan setting, meneliti dan melengkapi peralatan yang diperlukan. Kunci keberhasilan produksi program audio video sangat ditentukan oleh keberhasilan pada tahap perencanaan dan persiapan ini.

b. Produksi
Setelah perencanaan dan persiapan selesai, maka pelaksanaan produksi dimulai. Sutradara bekerja sama dengan para artis dan crew mencoba mewujudkan apa yang direncanakan dalam kertas dan tulisan (shooting script) menjadi gambar, susunan gambar yg dapat bercerita. Semua shot yang dibuat dicatat mulai dari saat pengambilan , isi shot dan time code pd akhir pengambilan gambar. Catatan kode waktu ini sangat berguna dalm proses editing.
 
c. Paska Produksi/Editing 
Menggabungkan beberapa hasil pengambilan gambar dan suara dengan urutan – urutan yang benar sesuai dengan naskah / script, dan juga menurut panjang dan irama tertentu yang tepat dengan keadaan cerita atau irama musik. Tujuan Editing [Combining, Trimming, Building]
a. Menggabungkan (combine)
Pada dasarnya, editing memeng persoalan tentang menggabungkan atau menyatukan shot-shot, sehingga tercapai perpaduan beberapa shot agar terbentuk kesatuan yang selaras dari bahan yang diambil. Proses penggabungan untuk memperoleh kontinuitas gambar ini merupakan suatu kreativitas seni tersendiri, dalam hal ini faktor pengalaman , dasar acuan, isi pesan yg disampaikan akan mempengaruhi nilai kreativitas pd proses penggabungan gambar.
b. Memengkas (trim)
Trimming atau memangkas merupakan salah satu pekerjaan editor dlm memotong bahan yg ada untuk membuat video tape akhir sesuai dengan penempatan wktu yg tersedia atau menghapus bahan-bahan yg tidak ada hubungannya. Seperti halnya yg dilakukan editor berita dimana harus membuat cerita lengkap dalam waktu yg singkat dan memangkas bahan yg ada sampai keminimalannya, misalnya produser memberi wktu 20 detik utk membuat cerita tentang tabrakan kereta, meskipun bahan berita yg diberikannya panjangnya 10 menit gambar yg bagus, akan tetapi tetap saja hrs memotong atau memangkas beberapa shot yg tidak diperlukan. Kata trim juga digunakan oleh editor pd editing control dlm membuat penambahan atau mengurangi dr edit point yg dibuat.
c. Membangun (build)
Membangun suatu cerita merupakan hal yg plg sulit. Seorang editor hrs membangun sebuah cerita dr shot-shot yg baik. Dalam membangun sebuah cerita , editor tidak boleh asal memilih beberapa shot serta menggabungkannya dalam sekuen, tetapi hrs mengambil beberapa shot dan transisi yg efektif utk membangun atau membuat cerita menjadi cerita utuh.

Setelah proses editing selesai, hasil video langsung di preview dan di evaluasi agar bisa perbaiki lagi dan kemudian di tayangkan ke televisi. Evaluasi perlu dilakukan agar kesalahan yang sudah terjadi, tidak terjadi lagi saat produksi selanjutnya.

Minggu, 02 September 2012

PEMBUATAN PROGRAM ACARA TV


Sering kali kita merasa bingung "bagaimana membuat program-program acara televisi yang kuat dan menarik". Berikut Tips-tips:
  • Berpikirlah seperti pemirsa. Ingat, anda dalam bisnis dengan dua klien yang berbeda - pemirsa dan para pemasang iklan. Tanpa pemirsa anda tidak akan pernah berhasil dengan para pemasang iklan.
  • Ingatlah Anda berkompetisi untuk waktu orang lain.Persaingan anda tidak hanya dengan stasiun televisi lainnya, tetapi juga dengan radio, bioskop, media cetak, (internet), pengelolaan rumah tangga dan bahkan perjalanan ke tempat kerja. Berkonsentrasilah untuk menemukan cara terbaik untuk bersaing dalam setiap SEGMEN waktu penyiaran.
  • Berpikir secara lokal! Itu adalah salah satu keuntungan Anda dibanding TV lain dengan program nasional. Orang peduli terhadap apa yang terjadi dalam masyarakat mereka sendiri. Filosofi berpikir lokal ini menjadi sangat penting bagi programming stasiun televisi untuk memenangkan persaingan. Artinya, berpikir lokal inilah yang kemudian menjadi prioritas dalam gaya industri media kapitalis dimana Profit menjadi utama dalam setiap pertimbangan pemrograman acara televisi.

    Dan salah satu catatan penting dalam filosofi programming adalah:

    1. Tidak ada rumusan yang ajaib untuk menjalankan stasiun televisi yang sukses untuk semua perekonomian. Tidak ada dua stasin TV yang persis sama, tidak ada dua gaya manajemen yang sama, dan selalu ada perbedaan latar budaya masing2.

    2. Menjalankan stasiun televisi dalam kota dengan penduduk 10.000 jiwa membutuhkan kemampuan yang sama dibandingkan dengan menjalankan stasiun televisi di kota berpenduduk 10 juta jiwa.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Karakteristik Bahasa Jurnalistik Televisi

Kita saksikan bahwa karakteristik bahasa jurnalistik yang dikemukakan oleh para pakar jurnalistik di atas reletaif sama. Kita akan merangkum karakteristik-karakteristik bahasa jurnalistik televisi di atas, dan kemudian menjelaskan kaitannya dengan karakteristik televisi sebagai media berikut contohnya:
  • Menggunakan bahasa sehari-hari, gaya bahasa percakapan, atau kalimat tutur  
Televisi adalah media audio-visual atau media pandang-dengar. Pemirsa memandang gambar dan mendengar narasi. Penyiar atau presenter atau reporter membacakan narasi atau narasi untuk pemirsa. Penyiar, presenter, atau reporter seolah tengah bercakap-cakap dengan pemirsa. Karena itu, kita harus menggunakan bahasa sehari-hari, bahasa percakapan, atau kalimat tutur dalam berita televisi yang kita buat. Bahwa bahasa jurnalistik televisi harus menggunakan gaya bahasa bertutur adalah juga untuk membedakannya dengan bahasa jurnalistik media cetak yang cenderung formal.
Contoh:
UNJUK RASA MAHASISWA DI GEDUNG D-P-R-D KOTA MEDAN/ DIWARNAI BENTROK DENGAN APARAT KEAMANAN/// (Formal, terutama pada kata ’’diwarnai.’ )
MAHASISWA BENTROK DENGAN APARAT/ KETIKA MAHASISWA BERUNJUK RASA DI DEPAN GEDUNG D-P-R-D KOTA MEDAN// (Bahasa tutur)
  • Menggunakan kata atau kalimat sederhana, menghindari kata asing, kata klise, istilah teknis
Sifat atau karakteristik televisi adalah jangkauannya yang luas. Itu artinya berita televisi menjangkau khalayak dari berbagai tingkat sosial-ekonomi. Jika untuk memperoleh informasi dari media cetak orang harus bisa membaca, untuk memperoleh informasi dari televisi orang tidak harus pandai membaca. Artinya, orang buta huruf pun bisa menonton berita televisi. Karena itu, bahasa jurnalistik televisi harus bisa dipahami oleh rata-rata penonton televisi. Bahasa yang dapat dipahami oleh rata-rata penonton televisi adalah bahasa yang sederhana, yang menghindari penggunaan kata asing atau istilah teknis yang belum umum.  Jika terpaksa menggunakan kata asing atau istilah teknis, upayakan menjelaskan arti atau maknanya.
Contoh 1:
KOMISI SATU D-P-R AKAN MEMINTA KLARIFIKASI PANGLIMA T-N-I BERKAITAN DENGAN DUGAAN KETERLIBATAN ANGGOTA T-N-I DALAM JARINGAN PERDAGANGAN SENJATA INTERNASIOAL/// (Bukan bahasa jurnalistik televisi yang baik, karena ada kata asing dan ’’klarifikasi.’’)
KOMISI SATU D-P-R AKAN MEMINTA PENJELASAN PANGLIMA T-N-I BERKAITAN DENGAN DUGAAN KETERLIBATAN ANGGOTA T-N-I DALAM PERDAGANGAN SENJATA INTERNASIONAL// (Bahasa sederhana)
Contoh 2:
KERUSUHAN POSO MELIBATKAN OKNUM ANGGOTA T-N-I// (Bukan bahasa jurnalistik televisi, karena ada kata ’’klise’’, yaitu oknum.)
KERUSUHAN POSO MELIBATKAN ANGGOTA T-N-I/// (Bahasa jurnalistik televisi)
  • Menggunakan kalimat pendek atau ekonomi kata
Kalimat panjang seringkali lebih sulit dimengerti dibanding kalimat pendek. Padahal, televisi bersifat sekilas dan satu arah. Artinya, ketika penonton tidak paham dengan berita yang kalimatnya terlampau panjang, dia tidak dapat mengulang mendengar berita tersebut. Lagi pula, kekuatan berita ada pada gambar. Jadi, buat apa menggunakan kalimat yang panjang-panjang. Selain itu, televisi mengutamakan kecepatan. Kalimat panjang hanya akan menjadikan alur berita berjalan lamban. Tetapi, jika suatu berita melulu terdiri dari kalimat-kalimat pendek, akan kedengaran membosankan.
Contoh:
PARA MAHASISWA BERENCANA AKAN MELAKUKAN UNJUK RASA MENENTANG KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK/ BESOK/// (Terdapat sejumlah kata mubazir)
BESOK/ MAHASISWA BERUNJUK RASA MENENTANG KENAIKAN HARGA HARGA BAHAN BAKAR MINYAK///kalimat panjang dipecah menjadi dua kalimat pendek)
  •  Menghindari kalimat terbalik, subyek dan predikat berdekatan posisinya, jabatan mendahului nama pemangku jabatan
Karakteristik bahasa jurnalistik televisi yang seperti ini sangat terkait dengan karakteristik televisi yang bersifat sekilas dan searah. Jika menggunakan kalimat terbalik atau letak subyek dan predikat berjauhan, boleh jadi penonton lupa siapa mengatakan atau melakukan apa.
Contoh 1:
SUSILO BAMBANG YUDHOYONO, PRESIDEN R-I, MEMERINTAHKAN ABURIZAL BAKRI, MENKO KESRA, MEMBERI GANTI RUGI KEPADA KORBAN LUMPUR LAPINDO DI SIDOARJO/ JAWA TIMUR// (Buruk, nama pemangku jabatan mendahului jabatan)
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO MEMERINTAHKAN MENKO KESRA ABURIAL BAKRI MEMBERI GANTI RUGI KEPADA KORBAN LUMPUR LAPINDO DI SIDOARJO/ JAWA TIMUR// (Baik, jabatan mendahukui pemangku jabatan)
Contoh 2:
INDONESIA HARUS BEBAS DARI KORUPSI,  KATA PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO// (Bukan bahaSa jurnalistik televisi karena subyek dan predikat terpisah letaknya)
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO BERTEKAD INDONESIA BEBAS DARI KORUPSI// (Bahasa jurnalistik televisi)
Contoh 3:
MEMPROTES PENANGKAPAN REKANNYA OLEH POLISI/ SERIBUAN MAHASISWA BERUNJUK RASA DI POLDA METRO JAYA/// (Bukan bahasa jurnalistik televisi, karena anak kalimat mendahului induk kalimat)
SERIBUAN MAHASISWA BERUNJUK RASA DI POLDA METRO JAYA MEMPROTES PENANGKAPAN REKAN MEREKA OLEH POLISI/// (Bahasa jurnalistik televisi)
  • Menggunakan kalimat aktif, jangan menyembunyikan kata kerja yang kuat di balik kata benda
Kalimat aktif lebih memiliki kekuatan dibanding kalimat pasif. Kalimat aktif juga lebih dimengerti dibanding kalimat pasif. Karena televisi merupakan media yang mengandalkan kecepatan dan bersifat sekilas, penggunaan kalimat aktif membuat penontin lebih mudah memahami berita tekevisi.
Contoh 1:
PRESIDEN  TIDAK PEDULI DENGAN TUNTUTAN MAHASISWA/// (Kalimat negatif)
PRESIDEN MENGAMBAIKAN TUNTUTAN MAHASISWA (Bahasa jurnalistik televisi, karena menggunakan kalimat aktif)
Contoh 2:
LEDAKAN BOM TERJADI DI DEPAN KEDUTAAN BESAR AUSTRALIA DI JAKARTA/// (Kalimat pasif, menyembunyikan kata kerja yang kuat di balik kata benda)
BOM MELEDAK DI DEPAN KEDUTAAN BESAR AUSTRALIA DI JAKARTA/// (Kalimat aktif, menampilkan kata kerja yang kuat: kata ’’meledak’’)
  • Jangan terlampau banyak menggunakan angka-angka
Televisi, seperti telah berungkali kali dikatakan di sini,  bersifat sekilas. Jika kita terlampau banyak menggunakan angka-angka, apalagi angka yang terlampau detil, pemirsa sulit mengingat, apalagi memahaminya. Karena itu, berhati-hatilah dalam menggunakan angka-angka. Jangan menggunakan angka-angka yang terlalu detil. Penggunaan angka yang terlalu banyak dan detil juga membuat kalimat kita menjadi panjang. Padahal, seperti telah disebut di atas, kita sebaiknya menggunakan kalimat-kalimat pendek dalam berita televisi yang kita tulis.
Contoh:
SEBANYAK SERIBU SERATUS 5 PULUH LIMA MAHASISWA BERUNJUK RASA DI GEDUNG D-P-R/// (Buruk, angka-angka terlalu detil)
LEBIH DARI 100 MAHASISWA BERUNJUK RASA DI GEDUNG D-P-R/// (Baik, angka tidak detil atau dibulatkan)

ZENLIST - First Event Angkatan Muda UPN Televisi 2019

ZENLIST “Citizen Journalist” merupakan sebuah acara yang diselenggarakan oleh Angkatan Muda UPN Televisi 2019. Bertempat di Ruang Se...